Balasan
pahala itu langsung berasal dari sisi Allah ‘azza wa jalla. Artinya
tidak ada yang mengetahui besarnya kadar balasan puasa kecuali Allah.
Adapun ibadah-ibadah yang lain akan diberikan ganjaran sesuai dengan
niat pelakunya dimana satu kebaikan akan dibalas dengan sepuluh kali
lipatnya hingga tujuh ratus kali lipat dan bahkan banyak sekali
kelipatannya
Syaikh Shalih bin Fauzan Al Fauzan
Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Alhamdulillahi Rabbil ‘alamin. Salawat dan salam semoga tercurah kepada nabi kita Muhammad, keluarga, dan segenap sahabatnya. Amma ba’du.
Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Wahai orang-orang
yang beriman, telah diwajibkan kepada kalian puasa sebagaimana
telah diwajibkan kepada orang-orang sebelum kalian, mudah-mudahan
kalian bertakwa”. Allah menujukan ayat ini kepada hamba-hamba-Nya
yang beriman diantara umat ini, bahwasanya Allah telah mewajibkan kepada
mereka puasa, sebagaimana Allah telah mewajibkan puasa kepada umat-umat
sebelumnya. Sehingga, kewajiban puasa ini adalah kewajiban yang sudah
ada sejak dulu kala kepada umat-umat.
Hal itu dikarenakan besarnya keutamaan puasa dan juga kebutuhan
orang-orang beriman terhadapnya. Allah mengabarkan kepada umat ini bahwa
puasa itu juga telah diwajibkan kepada umat-umat sebelum mereka, yaitu
dalam rangka menghibur hati mereka. Tatkala mereka mengetahui bahwa
puasa juga sudah diwajibkan kepada umat-umat selain mereka maka niscaya
puasa itu akan terasa ringan bagi mereka. Jadi, ini merupakan salah satu
cara untuk menghibur mereka.
Kemudian Allah menjelaskan hikmah yang tersimpan di balik syari’at
puasa yang Allah tetapkan. Bukanlah yang menjadi tujuan utama puasa
adalah melarang dari makan, minum, atau kesenangan-kesenangan yang
mubah. Bukan hal ini maksud utama darinya, akan tetapi sesungguhnya yang
dituju adalah buah dari puasa itu dalam diri hamba. Oleh sebab itu
Allah berfirman, “Mudah-mudahan kalian bertakwa”.
Hal ini menunjukkan bahwa puasa merupakan sebab menuju ketakwaan
kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Dan ini merupakan faidah yang terbesar
dari ibadah puasa. Yaitu bahwasanya puasa akan menumbuhkan ketakwaan,
sementara takwa adalah maqam/tingkatan ibadah yang paling tinggi. Takwa
adalah kalimat yang mencakup segala kebaikan. Karena dengan puasa,
seorang hamba akan menjauhi maksiat dan keburukan, menjauh darinya, dan
bertaubat dari dosa yang telah lalu.
Hal itu dikarenakan dia menyadari bahwa maksiat akan merusak puasa
bahkan bisa menyebabkan lenyapnya semua pahala puasa. Sehingga dia akan
letih dan capek tanpa mendapatkan faidah apa-apa. Oleh sebab itu,
seorang yang sedang puasa akan berusaha menjauhi maksiat. Dan hal ini
adalah suatu hal yang bisa dirasakan dan dilihat.
Orang yang berpuasa berbeda dengan orang yang tidak puasa. Orang yang
puasa akan membatasi dan meminimalisir maksiat dari segala indera yang
dia miliki. Karena puasa akan membatasi dirinya dari hal itu. Berbeda
dengan kondisi orang yang tidak puasa, karena kekuatan badan dan
syahwatnya akan membawa dirinya untuk cenderung mengikuti keinginan
syahwat dan hawa nafsu. Lain dengan orang yang puasa, maka puasa itu
akan membentenginya dari maksiat-maksiat ini dan membuahkan ketakwaan
kepada Allah di dalam dirinya.
Kalau begitu, puasa yang tidak memberikan buah dan bekas positif pada
pelakunya maka sebenarnya ini bukanlah puasa yang sebenarnya. Maka
hendaknya setiap muslim melihat pada dirinya sendiri; apabila puasa itu
bisa menghalangi dirinya dari maksiat dan melembutkan hatinya dengan
ketaatan, membuatnya membenci kemaksiatan, dan menggerakkan ketaatan,
maka itu berarti puasanya benar dan menghasilkan manfaat. Adapun apabila
sebaliknya maka itu berarti puasanya tidak bermanfaat.
Oleh sebab itulah Allah mengatakan, “Mudah-mudahan kalian bertakwa”.
Sehingga puasa yang tidak membuahkan ketakwaan adalah tidak mengandung
faidah di dalamnya. Inilah salah satu faidah puasa -yaitu membentengi
dari maksiat-. Kemudian, diantara keutamaan puasa yang sangat agung
adalah Allah mengistimewakan puasa ini dari seluruh bentuk amalan untuk
diri-Nya. Allah mengatakan, “Puasa adalah untuk-Ku, dan Aku sendiri yang akan membalasnya.” Hal itu dikarenakan puasa adalah niat yang ada dari seorang hamba untuk Rabbnya; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Allah subhanahu wa ta’ala.
Anda, apabila melihat diantara orang-orang itu, maka tidak ada
bedanya antara orang yang puasa dan yang selainnya. Tidak tampak
perbedaan diantara mereka. Berbeda halnya dengan bentuk ibadah-ibadah
lain; sholat bisa dilihat, sedekah tampak, jihad juga tampak,tasbih,
tahlil, dan takbir juga tampak jelas dan bisa dilihat orang dan mereka
bisa mendengarnya.
Berbeda halnya dengan puasa, maka puasa itu sesuatu yang rahasia.
Rahasia antara hamba dengan Rabbnya. Karena di dalam hatinya dia berniat
dengan puasanya untuk mendekatkan diri kepada Allah subhanahu wa
ta’ala. Dan hal ini adalah suatu perkara yang tidak diketahui secara
persis kecuali oleh Allah. Puasa itu tidak bisa dilihat pada fisiknya;
sama saja. Dia sama seperti orang lain. Dia juga berjalan, bergerak,
-sama dengan orang lain- sehingga tidak tampak puasa itu pada fisiknya.
Hanya Allah lah yang mengetahui bahwa dia memang sedang puasa.
Jadi karena puasa ini menjadi rahasia antara hamba dengan Rabbnya
maka Allah pun mengistimewakan amalan ini untuk diri-Nya sendiri. Dimana
Allah menyatakan, “Puasa itu adalah untuk-Ku.” Padahal suatu
perkara yang dimaklumi bahwa semua ibadah adalah untuk Allah, adapun
ibadah yang tidak diperuntukkan kepada Allah maka tidaklah bisa
membuahkan manfaat bagi orang yang puasa/melakukan amal itu alias
sia-sia. Akan tetapi puasa ini memiliki kekhususan; dimana ia merupakan
rahasia paling besar diantara sekian banyak ibadah yang lain.
Kemudian Allah mengatakan, “Dan Aku lah yang akan membalasnya”.
Balasan pahala itu langsung berasal dari sisi Allah ‘azza wa
jalla. Artinya tidak ada yang mengetahui besarnya kadar balasan puasa
kecuali Allah. Adapun ibadah-ibadah yang lain akan diberikan ganjaran
sesuai dengan niat pelakunya dimana satu kebaikan akan dibalas dengan
sepuluh kali lipatnya hingga tujuh ratus kali lipat dan bahkan banyak
sekali kelipatannya, kecuali untuk puasa. Karena besarnya pahala puasa
tidak bisa diukur dengan jumlah atau bilangan tertentu.
Karena puasa adalah bentuk kesabaran. Dia bersabar dalam meninggalkan
makanan, minuman, haus, dan lapar. Sementara Allah berfirman (yang
artinya), “Sesungguhnya akan disempurnakan pahala/balasan bagi orang-orang yang sabar itu tanpa ada perhitungan”.
Adapun amal-amal yang lain pahala dan balasannya ditentukan dengan
perhitungan/hisab. Bisa jadi banyak, dan bisa jadi sedikit. Adapun
puasa, maka tidak ada yang mengetahui kadar pahalanya selain Allah
semata. Maka ini pun menunjukkan kepada keutamaan puasa. Yaitu tidak ada
yang bisa mengetahui besar dan ukuran balasan yang diberikan untuknya
kecuali Allah subhanahu wa ta’ala. “Puasa itu untuk-Ku dan Aku lah yang akan langsung membalasnya”.
Selain itu, pada ibadah-ibadah lain bisa dengan mudah dimasuki
syirik. Doa, ia pun dimasuki syirik. Dimana seorang itu berdoa kepada
selain Allah. Demikian juga sedekah, ia bisa disusupi oleh riya’. Sholat
juga bisa disusupi oleh riya’. Akan tetapi puasa, maka ia tidak
disusupi oleh riya’. Karena puasa adalah sesuatu yang bersifat rahasia
antara hamba dengan Rabbnya. Puasa tidak bisa tampak pada pelakunya
sebagaimana halnya keadaan amal-amal lainnya yang dengan itu akan bisa
membuka pintu riya’. Puasa adalah amalan yang rahasia antara hamba
dengan Rabbnya, sehingga tidak bisa dimasuki riya’.
Demikian pula, orang-orang musyrik biasa mendekatkan diri kepada
berhala-berhala dengan sembelihan dan nadzar, doa, istighotsah, mereka
mempersekutukan Allah dalam segala bentuk amalan, adapun puasa maka ia
tidak tersusupi dan tidak dimasuki oleh syirik. Oleh sebab itulah Allah
menyatakan, “Puasa itu untuk-Ku dan Aku lah yang membalasnya”. Ini
artinya puasa tidak bisa disusupi oleh syirik. Inilah salah satu
keistimewaan yang ada dalam ibadah puasa.
Tidak ada ceritanya orang-orang musyrik dahulu berpuasa untuk
berhala-berhala mereka. Tidak ada kisahnya para pemuja kubur
melakukan puasa untuk kubur; mendekatkan diri kepadanya dengan puasa.
Sementara di saat yang sama mereka suka mendekatkan diri
kepada sesembahan-sesembahan mereka itu dengan berdoa, mempersembahkan
sembelihan, nadzar, dan lain sebagainya. Ini merupakan
bukti keistimewaan puasa dibandingkan seluruh amal. Sehingga Allah
mengatakan, “Puasa adalah untuk-Ku dan Aku lah yang akan membalasnya”.
Kemudian Allah menjelaskan mengapa orang yang berpuasa itu rela meninggalkan makanan, minuman, dan syahwatnya, yaitu, “Karena Aku”.
Artinya puasa itu dilakukan semata-mata karena Allah. Ini adalah niat
yang samar. Tiada yang mengetahui hal itu kecuali Allah subhanahu wa
ta’ala. Semoga Allah memberikan taufik kepada kita semuanya guna
menggapai apa yang dicintai dan diridhai-Nya.
Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi kita Muhammad, keluarga, dan segenap sahabatnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar